Cerita di Setiap Lembar 20 Ribu

Berawal dari pertanyaanku kepada seorang teman di kantor tentang cara menabung yang dia lakukan selama ini, aku jadi mendapat insight baru tentang cara menabung.

Dia mengungkapkan bahwa selama ini ia menabung kecil-kecilan dengan menyisihkan setiap lembar 20 ribu yang ia miliki ke dalam sebuah botol bekas. Hasil menabung tersebut biasanya ia dipakai untuk travelling, membeli barang elektronik baru,ataupun dimasukkan kembali ke dalam tabungan di bank. “Meskipun sebenarnya bersumber dari uang kita sendiri, rasanya sangat senang jika ada uang di rekening kita bertambah”, begitu tambahnya 🙂

Mendengar itu, aku pun mulai tertarik dan berusaha untuk menyisihkan uang 20 ribu yang aku dapat uang kembalian. Setiap aku mendapat kembalian 20 ribuan, langsung aku pisahkan dengan uang lainnya, supaya bisa langsung ditabung.

Mengapa harus 20 ribu?

Jawaban simpelnya karena lembaran uang 20 ribu jarang dijadikan sebagai uang kembalian (kecuali nominal uang cukup besar, entah pecahan 100 atau 50 ribuan). Nominalnya pun tidak terlalu besar atau terlalu kecil, sehingga kita tidak merasa terbebani apabila harus menyisihkan ataupun menabungnya. Sebenarnya seberapa pun uang yang kita punya, asalkan kita memiliki niat yang baik untuk memanfaatkan uang itu.

Menurutku 20 ribu itu lebih bermakna lagi karena aku mengumpulkannya selembar demi selembar. Dan setiap lembar yang aku kumpulkan menyimpan cerita bagaimana aku menahan nafsu untuk tidak membelanjakannya, entah untuk makanan ataupun barang yang mungkin belum kuperlukan. Tak jarang aku menggagalkan niatku untuk membeli snack di Indo*aret ataupun jajanan kesukaanku hanya karena tidak ingin membelanjakan lembaran 20 ribu hanya karena lapar mata saja.

Terkadang aku ingin membeli yoghurt Ci*ory kesukaanku sebagai teman makan buah. Kadang pula terbersit keinginan untuk membeli susu kemasan rasa stoberi yang aku suka. Namun harus kuurungkan niatku, bila yang tersisa di dompet hanya 20 ribu.

Meskipun ada rasa sebal karena tidak jadi membeli makanan tersebut, ada terbersit rasa bangga dan senang karena bisa memasukkan uang 20 ribu barang selembar ke dalam kantong. Apabila uang 20 ribu tersebut sudah masuk ke dalam kantong, aku usahakan untuk tidak mengambilnya lagi, kecuali untuk urusan yang sangat mendesak.

Ternyata kata pepatah itu benar

“Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit”

Seiring berjalannya waktu, selama kurang lebih 3 bulan sejak aku mulai menyisihkan uang 20 ribuan, lembaran yang terkumpul ternyata lumayan juga. Aku tidak ingin uang itu hanya dipakai untuk kepentingan pribadiku. Aku berharap uang tersebut dapat disalurkan untuk membantu orang yang membutuhkan, karena aku sadari dalam rezeki yang aku dapatkan ini juga terdapat hak orang lain.

Hari yang ditunggu tiba

Di hari Sabtu pagi itu, jalanan masih sepi sehabis hujan. Aku bersama bapak dan adikku mulai berkeliling membagikan amplop berisi uang lembaran 20 ribu beserta sarapan yang dibelanjakan dari uang tabungan 20 ribuan itu.

Mereka adalah para petugas sapu jalanan yang kesulitan untuk membersihkan jalan yang basah sehabis hujan. Petugas kebersihan yang basah kuyup bersama dengan tumpukan sampah. Tukang becak yang sepi penumpang karena tidak ada anak sekolah di hari Sabtu. Tukang sayur yang ketiduran di jalan menunggu pelanggan yang enggan keluar rumah karena hujan, hingga tukang reparasi sepeda yang tetap bekerja meskipun gerimis tak henti.

Raut wajah syukur dan bahagia dari mereka lah yang membuatku lega dan ikut bahagia. Ternyata setiap kebahagiaan yang kita bagikan pada orang lain, maka kebahagiaan itu akan kembali pada kita 2x lipat.

Yang paling berkesan adalah seorang tukang reparasi sepeda yang tak henti mengucapkan terima kasih sembari mengusap air matanya yang bercampur dengan air hujan. Sekilas wajahnya tidak terlalu asing, seperti ayah dari teman sekolahku dulu. Ia mengungkapkan bahwa akhir-akhir ini ia sulit sekali mendapatkan uang, mengingat tidak banyak orang yang memerlukan jasa reparasi sepeda. Usut punya usut, bapak itu juga dulunya bekerja sebagai tukang becak, namun karena sebuah kecelakaan, ia pun tidak lagi mampu mengayuh becaknya. Aku berharap uang itu dapat memberinya sepercik semangat untuk ia dan keluarganya.

Ini dia potret tukang reparasi sepeda yang aku maksud. Bapak tersebut sampai tidak kuat berdiri akibat luka di kaki yang dialaminya pasca kecelakaan

Meskipun nominal uang yang aku berikan tidak seberapa, dari setiap lembar uang 20 ribuan itu terdapat cerita tentang bagaimana aku mengorbankan keinginan-keinginanku. Lebih dari itu, setiap lembar uang 20 ribuan itu mengandung cerita tentang bagaimana ia dapat bermakna untuk kehidupan orang lain.

Untuk dokumentasi berbagi kasihnya bisa dilihat di link di bawah ini ya ❤

https://youtube.com/shorts/bjUuHw9Lau8?feature=share

Purworejo, 22-02-2022

4 thoughts on “Cerita di Setiap Lembar 20 Ribu

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started