Gereja Santa Perawan Maria

Oleh Benedicta Dwi Mariana

Purworejo adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Tengah yang berbatasan dengan Kabupaten Kebumen pada sisi barat, di bagian timur adalah Kabupaten Kulon Progo, sedangkan Kabupaten Wonosobo dan Magelang ada di bagian utara Purworejo. Kontur daerah Purworejo bervariasi, di sisi utara berbukit-bukit, sedangkan bagian selatan adalah dataran rendah. Penduduk Purworejo memiliki keragaman baik mata pencaharian, pendidikan, kebudayaan khusus di beberapa desa, juga agama yang dianut. Keberagaman agama di Purworejo dapat dilihat dengan adanya tempat-tempat ibadah seperti Masjid Agung Darul Muttaqin, Gereja Kristen GPIB, Gereja Katolik Santa Perawan Maria, dan Klenteng Thong Hwie Kiong. Bangunan tempat ibadah tersebut merupakan bukti sejarah Indonesia bahwa kerukunan antar umat beragama di Purworejo sudah terjalin selama berabad lamanya.


Tempat-tempat ibadah bersejarah perlu dilestarikan supaya jejak masa lalu tidak hilang tergerus jaman. Karena mempertimbangkan hal tersebut, pemerintah Kabupaten Purworejo menetapkan beberapa tempat ibadah menjadi bangunan cagar budaya. Berdasarkan data dari Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (2020), salah satu dari tempat ibadah yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya adalah bangunan Gereja Katolik Santa Perawan Maria yang saat ini masih berdiri kokoh di Jl.Prof.N.Driyarkara No.1 Purworejo (Dahulu disebut Jl. KH Wahid Hasyim No.1. Sejak 9 Januari 2020 berubah berdasarkan SK Bupati Purworejo No.160.18/7/2020). Bangunan Gereja Katolik Santa Perawan Maria yang digunakan untuk beribadah umat katolik khususnya yang bertempat tinggal di Purworejo ini memiliki sejarah panjang. Pada tanggal 21 Oktober 1927, ada tiga pastor dari ordo MSC tiba di Pelabuhan Tanjung Priok. Ketiga pastor tersebut adalah Pastor BJJ Visser, MSC sebagai ketua rombongan, Pastor B. Thien, MSC dan Pastor M.de Lange, MSC. Perjalanan mereka sebagai misionaris diawali dengan menghadap Uskup Batavia yang memimpin Pulau Jawa dan Madura. Setelah mendapat restu
dari Uskup Batavia Van Valsen, SJ, ketiga pastor tersebut melanjutkan perjalanan misionarisnya menuju Purworejo menggunakan kereta api dari perusahaan kereta api negara Staats Sporwegen dan turun di Kutoarjo. Pada masa itu Kutoarjo merupakan kabupaten tersendiri (Kartodirdjo, A.Sartono, dkk. 2020, p. 17). Berdasarkan data tahun 1927, para misionaris hadir di Purworejo untuk memberikan pelayanan kepada umat katolik yang saat itu telah tercatat sebanyak 801 orang. Umat terdiri dari 517 warga Belanda, 20 warga asing dari negara selain Belanda, dan 264 orang Jawa. Dengan adanya umat katolik di Purworejo tersebut, maka perayaan misa pertama dapat terselenggara pada tanggal 25 Oktober 1927. Misa diselenggarakan di bekas ruang gambar sebuah rumah yang digunakan sebagai kantor BOW (Burgerlijke Openbare Werken), atau kantor Pekerjaan Umum pemerintah kolonial Belanda (Kartodirdjo, A.Sartono, dkk. 2020, p. 85). Pada periode berikutnya, jumlah umat katolik bertambah sehingga kantor BOW tidak mampu menampung umat, terutama pada saat misa hari Minggu ataupun misa perayaan hari besar. Karena keadaan tersebut maka Mgr. B.J.J. Visser, MSC, Pater M.De Lange, MSC dan Pater Mannasse, MSC merencanakan pendirian gereja baru. Mereka mengumpulkan dana dari umat di Purworejo dan luar negeri. Setelah dana terkumpul, maka pembangunan gereja dimulai dengan peletakan batu pertama pada tanggal 12 Maret 1933. Pembangunan gereja selesai dan diberkati oleh Mgr . B.J.J. Visser, MSC pada tanggal 13 Agustus 1933 (Kartodirdjo, A.Sartono, dkk. 2020, p. 86).

Gedung gereja yang didirikan pada masa kolonial Belanda itu, sekarang mempunyai nama resmi yaitu Gereja Katolik Santa Perawan Maria. Gereja ini berada dibawah yuridiksi Keuskupan Purwokerto. Setelah dipergunakan selama hampir seabad lamanya gedung ini mengalami beberapa perbaikan dan penambahan sebagian bangunan, tetapi wujud aslinya masih tetap dipertahankan. Struktur bangunan Gereja Santa Perawan Maria sangat menakjubkan. Pada bagian depan gereja ada pintu utama yang terbuat dari kayu model kupu tarung. Diatas pintu utama tersebut tertulis : MATRIS FILIO DICATA ( Dipersembahkan kepada Santa Maria Bunda Allah). Dekat pintu masuk dibagian dalam terdapat tempat air suci dimana umat Katolik mencelupkan jari mereka sebelum mengikuti perayaan misa. Air suci itu untuk mengingatkan kembali pembabtisan yang telah diterima. Setelah melewati pintu masuk, di bagian selatan terdapat baptisterium yang telah ada sejak pendirian gereja. Saat ini tempat itu digunakan untuk pembaptisan bayi, sedangkan pembaptisan orang dewasa dilakukan di altar. Menyusuri bagian dalam gedung Gereja Santa Perawan Maria, ada 12 pilar besar penyangga gedung yang terbuat dari kayu dengan ornamen ukiran tempel. Disekeliling pilar-pilar tersebut tertata bangku-bangku kayu panjang sebagai tempat duduk umat saat beribadah. Setelah melewati deretan bangku umat, pada bagian depan yang merupakan pusat dari gedung adalah altar, tempat pastor memimpin perayaan misa. Di sekitar altar yang disebut juga ‘Panti Imam’, terdapat salib besar, tabernakel, mimbar, tempat duduk pastor dan perlengkapan ibadah lainnya. Altar gereja katolik selalu dihias dengan rangkaian bunga hidup sebagai ungkapan syukur dan doa, serta pengingat akan karunia kehidupan yang telah diterima. Pada samping altar ada ruang yang digunakan untuk berdevosi pada Bunda Maria. Di tempat itu terdapat Patung Bunda Maria yang merupakan alat untuk membantu memusatkan hati dan pikiran umat katolik dalam berdoa.
Biasanya umat berdoa di sekitar patung Bunda Maria sebelum atau setelah
perayaan misa. Disisi lain dari altar, terdapat seperangkat gamelan, alat musik
tradisional Jawa. Pada saat-saat tertentu gamelan itu digunakan untuk mengiringi perayaan misa yang menggunakan bahasa Jawa. Perayaan misa berbahasa Indonesia, diiringi organ listrik yang terletak dekat peralatan gamelan tersebut.


Selain ruang untuk berdevosi pada Bunda Maria dan tempat untuk gamelan, di
sisi utara gedung ada 3 bilik kecil untuk pengakuan dosa. Umat katolik meyakini bahwa mengakui dosa dengan perantaraan pastor dan dengan pertobatan , Tuhan akan mengampuni dosanya. Masih berada didalam gedung, dibagian belakang dan menghadap ke altar ada sebuah balkon dengan tangga untuk menuju ke tempat itu. Balkon dipergunakan oleh umat apabila bagian utama gereja sudah terlalu padat. Daya tampung gedung gereja mencapai 600 umat, bahkan pada hari perayaan tertentu dapat mencapai 700 orang.
Selain bangunan yang masih terawat dengan baik, jendela dan ornamen gereja juga dalam keadaan baik. Bagian depan gedung, terdapat jendela dengan ornamen kaca patri. Melalui kaca tersebut terpancar cahaya yang indah
saat perayaan misa pada pagi hari. Kelembutan cahaya itu dapat membantu umat Katolik lebih fokus dalam doa. Selain jendela dengan ornamen kaca, pada bagian samping ada jendela kaca putih tanpa ornamen. Jendela-jendela tersebut berbingkai kayu, yang dapat dibuka menyamping. Di sisi-sisi jendela, tergantung lukisan 14 lukisan yang berjajar sekeliling dinding gereja. Empat belas lukisan tersebut menggambarkan peristiwa penting dalam kehidupan Yesus yang diperingati oleh umat Katolik. Pada bagian atas lukisan-lukisan tersebut ada beberapa jendela kaca dan jendela terbuat dari kayu yang disusun miring, bertujuan agar sirkulasi udara dapat mengalir dengan baik. Selain melalui jendela, sirkulasi udara dalam gereja juga terbantu dengan lubang angin-angin pada dinding bagian bawah gereja. Setelah penelusuran bagian dalam gereja, ada beberapa tempat di bagian luar gereja tetapi masih termasuk dalam kesatuan bangunan Gereja Santa Maria. Pada atap bangunan terdapat menara dan lonceng gereja yang dibunyikan sebelum perayaan misa, saat pukul 6 pagi dan sore, serta pukul 12 siang. Bunyi lonceng itu sebagai pertanda untuk berdoa, juga menandai misa akan dimulai. Sebelum perayaan misa, pastor dan para petugas gereja mempersiapkan diri untuk mengenakan busana khusus dalam perayaan misa di ruang yang disebut sakristi. Selain sakristi, pada bagian lain diluar bangunan, terdapat sacrarium atau sumur suci. Sumur ini digunakan untuk menampung benda-benda rohani yang sudah rusak dan tidak layak dipakai lagi. Benda yang boleh ditampung dalam sacrarium antara lain adalah salib, patung Yesus, patung Maria kalung rosario dan benda rohani umat katolik lainnya. Benda-benda rohani umat katolik biasanya sudah diberkati oleh pastor, maka apabila benda tersebut sudah tidak layak dipakai lagi, sebaiknya tidak dibuang melainkan ditempatkan di sumur suci itu. Sumur tersebut
tidak berair dan permukaannya ditutup.


Keberadaan bangunan Gereja Santa Perawan Maria di Purworejo merupakan perwujudan dari toleransi antar umat beragama yang terjalin dengan baik di Kabupaten Purworejo. Keharmonisan hubungan antar umat beragama yang telah dirawat dan dijaga berpuluh tahun lamanya membuat kehidupan di
Purworejo menjadi guyup rukun. Peranan pemerintah Kabupaten Purworejo
dalam melestarikan keberadaan bangunan bersejarah ini adalah dengan
menetapkan bangunan Gereja Santa Perawan Maria sebagai cagar budaya. Tempat ibadah yang tetap lestari dan bermanfaat ini menjadi salah satu faktor penunjang perkembangan dan kemajuan sektor lain seperti pendidikan, Pariwisata rohani dan perekonomian Purworejo.

Purworejo, 19 Februari 2025


Kartodirdjo, A.Sartono, dkk. 2020. Sejarah Keuskupan Purwokerto.
Yogyakata: Universitas Sanata Dharma.
Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata. 2020. Cagar Budaya di
Kabupaten Purworejo. https://dinporapar.purworejokab.go.id/index.php/cagarbudaya-di-kabupaten-purworejo/ (diakses tanggal 19 Februari 2025).

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started